Hello world!

P Wijayanto’s site ( in progress … )

Aku gelem, saiki, kene, mengkene…

Aku gelem, saiki, kene, mengkene (aku mau sekarang, disini, seperti ini) adalah rasa bersyukur dalam segala hal yang dihadapi. Istilah ini sangat akrab bagi para pelajar Kawruh Jiwa, dan aku teringat istilah ini ketika melihat email yang baru saja aku terima, dari seorang teman, inilah foto-foto kiriman itu:
Jika merasa tidak senang/bahagia, lihat ini…

Read the rest

Pembeli adalah Raja, Penjual adalah Maha Raja

Kemarin aku ke BCA, biasa… setor uang belanja.  Oleh salah satu petugas customer service, setiap orang yang masuk diberi sebuah buku kecil, aku juga sempat memfoto spanduk di belakang counter.  Oh.. ternyata kemarin adalah Hari Pelanggan Nasional. 

Jadi ingat ‘jargon’ Pembeli adalah Raja…, tapi jangan lupa bahwa Penjual adalah Maha Raja.  Sekalipun upaya untuk menempatkan pembeli/pelanggan sebagai pihak yang sangat penting, namun tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan ada ditangan penjual.  Contohnya BCA sendiri, apakah pelanggan pernah diajak kompromi dalam menetapkan biaya administrasi bulanan buku tabungan/ATM, yang cukup mahal itu? Tidak khan.. Si Raja harus nurut sama Sang Maha Raja.  Nggak boleh protes….

Nih fotonya…

Read the rest

Semangat Tim Sukses ?

Beberapa hari yang lalu, ketika membeli bed untuk Icha di Toko Sumber Jaya, Jl. Sukowati - Salatiga, aku jalan2 di depan toko, dan melihat sticker kampanye cagub Jawa Timur, tertempel di tiang lampu di depan toko.  Heran deh…., kampanye cagub Jatim, ditempel di Jateng.  Ya…., mungkin biar ada orang Salatiga yang merekomendasikan ke saudaranya yang di Jatim.  Wujud semangat Tim Sukses??

Barang rusak

Aku kadang ‘gimana’ gitu jika ada barang-barang yang aku beli/pakai rusak. Bulan ini barang yang rusak antara lain gerinda merek Makita, yang aku beli 6 tahun lalu, sudah tidak dapat digunakan lagi. Gerinda ini agak lama dipinjam temanku, untuk memotong tegel teraso yang dipasang dirumahnya, dilanjutkan untuk memotong-motong besi. Ketika akhirnya aku ambil, dan aku pakai untuk mengerjakan sesuatu di rumah, e…. baru beberapa saat mutarnya sudah nggak kencang, trus akhirnya mati. ya sudah.. itu motornya rusak. Mau beli lagi, masih belum ada urgensinya, karena barang itu sangat jarang aku gunakan, juga karena harganya sekarang hampir 1 juta rupiah.

Read the rest

Browser baru: Google Chrome

Kemarin pagi mulai aku pakai browser Google Chrome, ya coba-coba, mau tahu gimana kinerjanya. Secara umum aku anggap sangat bagus, tampilannya simple, kecepatannya ya OK. Aku badingkan dengan Mozilla Firefox, yang sudah aku speedup dengan Fasterfox, aku test bersama-sama (selisih sedikit waktu nge-kliknya) masih lebih cepat Google Chrome dalam menampilkan halaman web.

Read the rest

Marah karena beda pendapat…

Hari ini, di sela-sela mempersiapkan bahan kuliah minggu depan dengan laptop hitam yang sudah mulai “telmi”, aku agak disibukkan menjawab dan menghapus komentar-komentar dari seseorang yang tampaknya sangat marah kepadaku, di beberapa website yang aku kelola, akibat perbedaan pendapat mengenai keyakinan tertentu.   Aku jengkel, namun tetap tidak marah, sebab percuma marah-marah, menghabiskan energi saja.  Lagi pula, aku juga  belajar ‘filsafat’ Kawruh Jiwa, yang didalamnya diajarkan antara lain bahwa orang boleh berbeda pendapat, namun tidak pakai marah. Itu sebuah “pakem” bagi orang-orang yang belajar Kawruh Jiwa, yaitu, tanpa dhemen tanpa sengit, tanpa nesu (tanpa memuja, tanpa membenci, tanpa marah).

Read the rest

Mendaftar jadi CALEG di Kota Salatiga

Ini bukan masalah jadi atau tidak jadi, sebab aku tahu bahwa peluangnya sangat kecil. Menurut Informasi dari KPU Kota Salatiga, untuk daerah pemilihan Sidorejo Lor, dengan jatah 7 kursi DPRD, ada lebih dari 100 nama yang dimasukkan oleh partai-partai politik yang “berbisnis” di Kota Salatiga. Tanggal 19 Agustus yang lalu aku masukkan berkasku ke KPU, mendaftar sebagai caleg Kota Salatiga, dari PPI (partai no. 14) untuk dapil Sidorejo, kecamatan tempat tinggalku.

Sebagai Ketua DPC Partai Pemuda Indonesia  (PPI) Kota Salatiga, yang bersama teman-teman men-setup partai ini sejak verifikasi beberapa bulan lalu, dan akhirnya lolos menjadi peserta pemilu (di Salatiga, juga lolos lho….) aku bertanggungjawab terhadap partai dan ditengah kesulitan mencari caleg yang “pantas”, aku memutuskan mendaftar jadi caleg untuk dapil Sidorejo.
Read the rest

Ke rumah Prof. Arief Budiman

Sudah bertahun-tahun aku tahu Pak Arief Budiman, dulu ketika masih kuliah di UKSW, kadang juga mendengar ceramah beliau di seminar-seminar. Hari ini aku pergi menemui beliau di rumahnya di Kemiri, Salatiga, sebuah rumah yang unik, tidak jelas mana muka, mana belakang, (lha aku yang pertama kali datang, berjalan mencari-cari dimana harus ketok pintu, ternyata langsung masuk ruang dapur.. he he he..), tapi sungguh eksotik. Aku mengantar proposal untuk seminar besok hari Minggu 31 Agustus di Semarang.

Ternyata Prof. Arief Budiman sekarang sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai dosen di Melbourne University - Australia, dan sekarang sering di Salatiga.

Tentang Prof. Arief Budiman, dapat dilihat di sini, tapi ada sedikit kesalahan di situ, yakni bahwa Pak Arief Budiman meninggalkan UKSW Salatiga, bukan pasca kerusuhan Mei 1998, melainkan pasca “persoalan” di UKSW tahun 1994. Atau bisa juga lihat di sini.

Partai politik (dari) kamar kost

Tanggal 19 Agustus 2008 hingga pukul 24.00 yang lalu adalah batas terakhir pendaftaran calon anggota legislatif oleh partai politik peserta pemilu. Jam 5 sore aku datang ke kantor KPU Kota Salatiga untuk menyerahkan berkas pendaftaran caleg dari partai yang aku ikuti. Setelah menyerahkan berkas-berkas, dan menandatangani tanda terima, aku ngobrol dengan petugas KPU. Berikutnya temanku dari partai lain datang untuk mendaftarkan bacalegnya. Tampaknya ada banyak berkas yang masih harus dilengkapi. Aku tahu bahwa temanku dan teman-temannya di partainya “tergesa-gesa” mempersiapkan segala sesuatunya, karena baru sehari sebelumnya Surat Keputusan kepengurusan partainya diperoleh. (sangat berbeda dengan partai yang aku ikuti, dimana aku memiliki SK sebagai pengurus DPC, sejak bulan Februari 2008)
Read the rest

GPS-nya Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata

Sejak jaman dulu, kenapa KKN (tidak) selalu bikin “papan nama petujuk jalan”. Kali ini KKN dari UNDIP (Universitas Diponegoro) Semarang yang ber-KKN di desa tempat tinggal orang tuaku, lagi-lagi bikin papan petunjuk jalan.

Aku mengakui jika petunjuk jalan memang sangat “powerful” dalam memandu orang-orang asing di suatu tempat, tapi… kalau petunjuk jalan itu dibuat dari KAYU apalagi dari TRIPLEKS…, mau bertahan berapa lama?

Mbok ya mahasiswa kreatif dikit, jangan hanya berpikir “proyek jangka pendek” bikin petujuk jalan dari logam misalnya ‘galvanil’, bertiang pipa besi, jadi sekali buat bisa untuk jangka panjang.


Gambar: papan nama dari tripleks, sekali kehujanan, dijamin tripleksnya hancur…Untung KKNnya di musim kemarau…
Read the rest